Umum

(الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ) adalah

Qiraa’aat

( فالان ) dibaca ( فالان ) oleh Warsy.

b. I’raab
(أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ) kata lailata berkedudukan manshuub sebagai zharf; ‘aamil yang menashabkannya adalah (أُحِلَّ).
(وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ) ini adalah jumlah ismiyyah yang menempati kedudukan nashb sebagai haal dari dhamiir (تُبَاشِرُوهُنَّ).
c. Balaaghah
(الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ) ini adalah kinayaah (ungkapan kiasan) tentang jimak, dan di sini dipakai kata sambung (إِلَىٰ) karena ungkapan ini mengandung makna “mencapai”.
(هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ) susunan ini disebut isti’aarah: suami dan istri–karena keduanya saling melingkupi pasangannya ketika berdekatan-diserupakan dengan pakaian yang melingkupi tubuh pemakainya.
(الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ) susunan ini juga termasuk isti’aarah. Yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah penyerupaan terangnya pagi dengan benang putih dan penyerupaan gelapnya malam dengan benang hitam. Kedua benang itu adalah majaaz. Penyerupaan dengan dua benang ini karena keduanya (terangnya psgi dan gelapnya malam) lemah pada saat matahari sedang terbit. Namun az-Zamakhsyari berkata: ini adalah tasybiih baliigh, karena firman-Nya (مِنَ الْفَجْرِ) membuatnya tidak termasuk jenis isti’aarah.
Firman-Nya (مِنَ الْفَجْرِ) adalah bayaan (penjelasan) bagi al-khaitul abyadh “benang putih”; dan yang dijelaskan hanya kata ini, sementara kata al-khaitul aswad tidak diberi penjelasan karena penjelasan bagi salah satunya terhitung sebagai penjelasan pula bagi yang lain. Boleh pula kata (مِنَ) berfungsi untuk menyatakan tab’iidh (pembagian), karena “benang putih” itu adalah sebagian dari fajar atau awal fajar.
d. Mufradat lughawiyyah
(لَيْلَةَ الصِّيَامِ) malam-malam puasa
(الرَّفَثُ) kata ini asalnya bermakna “perkataan kotor” atau “mengungkap secara terang-terangan perkara yang semestinya dinyatakan secara sindiran”; kemudian kata ini dipakai dengan makna “jimak” atau “segala sesuatu yang diinginkan laki-laki dari perempuan” karena biasanya hal itu tidak lepas dari “kekotoran”.
(هُنَّ لِبَاسٌ) masing-masing dari suami istri ibaratnya pakaian bagi pasangannya karena ia menutupi pasangannya-sebagaimana pakaian menutupi pemakainya-dan mencegahnya dari perbuatan maksiat. (تَخْتَانُونَ) kalian mengkhianati diri kalian dengan berjimak pada malam puasa.
(الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ) adalah putihnya (terangnya) siang yang pertama kali terlihat, seperti benang yang terbentang tipis kemudian menyebar.
(الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ) adalah hitamnya (gelapnya) malam yang membentang dan bercampur dengan terangnya siang, seakan-akan ia adalah benang yang dibentangkan. (مِنَ الْفَجْرِ) yakni fajar shadiq. Ini adalah kata penjelas (bayaan) bagi ungkapan al-khaithul-abyadh (benang putih). Adapun bayaan bagi al-khaithul-aswad dihapus, taqdiirnya adalah: (مناللَّيْلِ). Yang disebutkan hanya bayaan yang pertama karena penjelasan salah satunya merupakan penjelasan bagi kata yang lain. Allah menyerupakan keadaan terang yang muncul dengan kegelapan yang mengiringinya dengan dua benang: putih dan hitam yang terbentang.
(ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ) kemudian sempurnakan puasa dari fajar hingga (اللَّيْل) yakni terbenamnya matahari. Itmaamush-shaum artinya mengerjakan puasa secara sempurna.
(وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ) jangan menggauli istri-istri kalian. Al-Mubaasyarah artinya saling menyentuh kulit pasangan; tapi yang dimaksud di sini adalah jimak. (وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ) arti i’tikaf dalam bahasa Arab adalah berdiam dan tetap bertahan pada sesuatu. Sedangkan artinya dalam istilah syari’at adalah berdiam di masjid demi mendekatkan diri kepada Allah.
(حُدُودُ اللَّهِ) bentuk tunggal kata huduud adalah hadd, yang dalam bahasa Arab bermakna “pemisah antara dua hal/benda”, kemudian kata ini dipakai dengan makna “hukum-hukum yang disyariatkan Allah bagi hamba-hamba-Nya”. Kalau kalimat setelahnya adalah (فَلَا تَقْرَبُوهَا), berarti yang dimaksud adalah hukum-hukumNya, yakni apa yang dibatasi dan ditetapkan-Nya, maka manusia tidak boleh melampauinya. Tapi jika yang dimaksud dengan huduud adalah hukum-hukum secara umum, berarti yang dimaksud dengan firman-Nya (فَلَا تَقْرَبُوهَا) adalah “janganlah kalian melakukan pengubahan padanya”, atau “janganlah kalian mendekati batas yang memisahkan antara wilayah kebenaran dan wilayah kesesatan.

POS-POS TERBARU