Persebaran Agama Kristiani, Islam dan Agama Lain Di Indonesia Pada Kala Kolonial

Persebaran Agama Kristiani, Islam dan Agama Lain Di Indonesia Pada Kala Kolonial

Persebaran Agama Kristiani, Islam dan Agama Lain Di Indonesia Pada Kala Kolonial

Persebaran Agama Kristiani, Islam dan Agama Lain Di Indonesia Pada Kala Kolonial
Persebaran Agama Kristiani, Islam dan Agama Lain Di Indonesia Pada Kala Kolonial

Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, selain mempengaruhi sistem pemerintahan dan budaya juga menawarkan efek yang sangat besar pada sistem ideologi (penyebaran agama). Apalagi secara umum para penjajah itu beragama nasrani.

Yang dalam perjalanannya banyak menciptakan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyatsehingga mendapat perlawanan dari tokok-tokok kaum muslimin yang sudah ada lebih awal.

1. Masa Pendudukan Portugis dan Spanyol

Masuknya agama Kristen Nasrani ke Indonesia seiring dengan masuknya bangsa Spanyol dan Portugis ke Indonesia.

Penyebaran Kristen di Indonesia intinya sanggup dibedakan menjadi 2, yaitu penyebaran Nasrani dan penyebaran Protestan.

Penyebaran Nasrani diprakarsai oleh para rohaniwan yaitu para pastor dan biarawan, sedangkan penyebaran Kristen Protestan dirintis oleh para pendeta atau pengabar Injil.

Agama Nasrani masuk ke Maluku dirintis oleh saudagar Portugis berjulukan Gonzalo Veloso dan seorang pastor berjulukan Simon Vas. (https://blog.fe-saburai.ac.id/pengertian-seni-rupa-murni-jenis-gambar-dan-10-contohnya/)

Persebaran agama Kristen Nasrani dilakukan oleh sebuah forum yang dinamakan missi, yang berpusat di Vatikan, Roma.

Perkembangan agama Nasrani memperlihatkan kemajuan yang pesat semenjak rohaniwan Portugis yang berjulukan Fransiscus Xavierius dan Ignatius Loyola melaksanakan kegiatan keagamaan di tengah-tengah masyarakat Ambon, Ternate, dan Morotai antara tahun 1546 – 1547.

2. Masa Pendudukan Belanda dan Inggris

Kehadiran Belanda di Indonesia mengubah peta pengkristenan di beberapa daerah di Indonesia. Belanda yaitu penganut Protestan yang beraliran Calvinis.

Di Maluku sebagian besar penduduk yang telah beragama Nasrani berganti menjadi Calvinis. VOC melarang missi Nasrani melaksanakan kegiatan keagamaan.

Jean Calvin (1509 – 1564) yaitu pelopor anutan Calvinisme. Ia mengajarkan paham gres yang bertentangan dengan anutan Kristen Katolik, yaitu mengajarkan bahwa kekuasaan Tuhan tidak terbatas, gereja dipisahkan dari kekuasaan pemerintahan duniawi, menentang keras perzinahan, judi, mabok dan lagu-lagu porno.

Negara yang menganut yaitu Belanda, Inggris, Skotlandia, Swiss, Hungaria, dan sebagainya. Kegiatan penyebaran agama Kristen Protestan dilakukan oleh zending. Tokoh-tokoh zending Belanda di Indonesia antara lain Dr. Nomensen, Sebastian Dan Chaerts, dan Hernius.

Kegiatan zending Belanda yang ada di Indonesia antara lain:

a. mendirikan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) yaitu perkumpulan yang berusaha membuatkan agama Kristen Protestan, dan

b. mendirikan sekolah-sekolah yang menitikberatkan pada upaya-upaya penyebaran anutan Kristen Protestan.

Memasuki kurun ke-19, penyebaran agama Kristiani semakin meluas ke banyak sekali wilayah di Indonesia. Kelompok missionaris dan zending dari gereja reformasi Eropa maupun Amerika mulai berdatangan.

Pada masa pendudukan Inggris tahun 1814, kelompok rohaniwan yang terhimpun dalam NZG (Nederlandsche Zendeling Genootschap) dari Belanda, didukung oleh kelompok LMS (London Missionary Society), memulai acara keagamaan mereka, terutama ditujukan kepada penduduk lokal.

Berbagai organisasi missi dan zending di daerah mulai bekerja secara otonomi, seperti:

a. Ordo Herlege Hart (Hati Suci), bertanggung jawab penuh atas wilayah Papua,

b. Societeit van het Goddelijk Woord (Serikat Sabda Allah), bertanggung jawab di tempat Flores dan Timor, dan

c. Kelompok Kapusin, bertanggung jawab di tempat Sumatra dan Kalimantan.

Menurut peraturan yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1854, zending dan missionaris Kristiani harus mempunyai izin khusus dari Gubernur Jenderal untuk melaksanakan kegiatan ‘dakwah’.

Seiring dengan peraturan itu, daerah Banten, Aceh, Sumatra Barat, dan Bali tertutup untuk kegiatan missi Kristen apa pun. Dengan demikian, penduduk muslim yang berada di Banten, Aceh, dan Sumatra Barat tidak terusik oleh kegiatan missi.

Wilayah Ambon dan sekitarnya oleh pihak pemerintah kolonial menjadi hak langsung para zending. Daerah Batak juga menjadi wilayah langsung bagi kegiatan para zending tahun 1807.

Salah satu fenomena yang menarik dari perkembangan agama Nasrani di Indonesia yaitu munculnya gereja-gereja lokal.

Jika sebelumnya sebagian besar pemeluk agama Kristiani di Jawa terdiri dari penduduk perkotaan, di bawah gerejagereja lokal berkembang komunitas Kristiani di daerah pedesaan.

Pertemuan anutan Kristiani Eropa dengan unsur-unsur lokal di Jawa lalu menghasilkan gereja-gereja lokal menyerupai Pasumahan Kristen Jawa Merdika (PKJM), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Sunda (GKS), dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Salah satu tokoh yang populer dari gereja lokal yaitu Kiai Sadrach Surapranata. Kiai Sadrach Surapranata (1835-1924), memadukan anutan Kristen dengan gaib dan watak lokal Jawa.

Ia dianggap menganut anutan sesat atau palsu oleh para missionaris Kristiani Eropa. Namun pada tahun 1887, bisa membaptis seorang aristokrat dari Keraton Paku Alaman.

Pada tahun 1890, pengikutnya hampir 7.000 orang yang tersebar di 371 desa di Jawa tengah dan Jawa Timur.

Di pulau-pulau lain selain Jawa di Indonesia juga terdapat beberapa gereja lokal. Hal ini sanggup ditemukan di kalangan masyarakat Batak ( Sumatra Utara ) dan Minahasa (Sulawesi Utara).

3. Persebaran Agama Islam dan Agama Lainnya pada Masa Kolonial

Pemerintah Hindia Belanda memberi izin khusus di daerah-daerah tertentu untuk persebaran agama Kristiani. Daerah penyebaran Kristiani dilakukan di daerah-daerah yang belum terkena efek agama Hindu Buddha maupun Islam.

Misalnya wilayah Ambon, Batak, Papua, dan Sulawesi Utara. Terhadap daerah-daerah yang menjadi basis agama lain, pemerintah kolonial menyatakan tertutup untuk Kristenisasi.

Misalnya daerah Banten, Aceh, dan Sumatra Barat yang merupakan basis agama Islam. Bali menjadi basis agama Hindu. Dengan demikian perkembangan agama lain tidak terdesak oleh Kristenisasi.

Masyarakat di daerah-daerah tersebut leluasa dalam menjalankan kegiatannya. Kepercayaan yang mereka pegang teguh semenjak sebelum kedatangan bangsa Eropa tetap eksis.