Desa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat Jabar

Desa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat JabarDesa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat Jabar

Desa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat Jabar

Desa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat JabarDesa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat Jabar
Desa Girimekar Ikuti Lomba BBGRM Tingkat Jabar

BANDUNGKAB-Dari 270 desa yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung, desa Girimekar Kecamatan Cilengkrang

terpilih untuk mewakili Kabupaten Bandung pada Lomba Pelaksana Terbaik Gotong Royong Masyarakat Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2014.

Demikian ungkap Ketua Tim Penilai Lomba BBGRM (Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat) Tahun 2014, Khoirul Nain, SKM, M.Epid saat melakukan penilaian dan peninjauan lapangan di Desa Girimekar, Cilengkrang, Senin (24/03).

Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Daerah, Ir.H.Sofian Nataprawira, MP, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Bandung, Dra.Hj.Eros Roswita, M.Si dan Camat Cilengkrang, Indra Respati.

Berdasarkan kriteria penilaian, menurut Khoirul Nain, desa Girimekar dianggap telah cukup

memenuhi empat aspek penilaian diantaranya penilaian terhadap kegiatan di bidang ekonomi, sosial budaya dan keagamaan, kemasyarakatan serta bidang lingkungan. “Untuk kategori kabupaten, Kabupaten Bandung terpilih bersama kabupaten lainnya, Ciamis dan Garut, sedangkan untuk kategori kota, terpilih Kota Banjar, Cimahi dan Cirebon. Penilaian ini dilakukan dalam rangka memilih wakil Jabar di tingkat Nasional”, beber Khoirul.

Dikatakan Khoirul, salah satu daya tarik kegiatan di Girimekar adalah adanya upaya aparatur desa dan masyarakat setempat dalam memperhatikan bidang lingkungan melalui pembibitan kopi untuk reboisasi lahan kritis. “Selain berdampak ekonomis, kegiatan tersebut tentunya dapat membantu pemerintah daerah dalam upaya menangani lahan kritis di Kabupaten Bandung”, tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Khoirul mengatakan pembangunan di suatu desa akan berhasil dan maju manakala ada kontribusi yang besar dan partisipasi masyarakat desa tersebut. Partisispasi tersebut bisa diwujudkan melalui nilai budaya gotong royong yang sudah identik dengan masyarakat indonesia.

Disamping gotong royong, kata dia kunci utamanya adalah kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM) sendiri.

Apalagi dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang memberikan peluang dan harapan bagi setiap desa untuk bisa lebih maju dan sejahtera karena ada pengalokasian anggaran dari APBN senilai 1 Milyar bagi setiap desa per tahunnya.

“Namun anggaran yang besar tidak semata-mata menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan SDM dan aparatur desa dalam mengelola anggaran tersebut agar dapat meningkatkan kesejahteraan warganya. Jangan sampai pengelolaan anggaran ini berimplikasi pada persoalan hukum”, tandasnya pula.

Sementara Sofian Nataprawira menilai saat ini terjadi indikasi penurunan semangat kegotongroyongan di berbagai daerah, yang ditandai dengan terjadinya perubahan sosial dan prilaku di kalangan masyarakat, “Seperti tumbuhnya sikap individualisme dan terjadinya berbagai konflik yang dapat menimbulkan keresahan dan kerawanan dalam kehidupan masyarakat”, ungkapnya.

Oleh karenanya, Sofian berharap kehadiran lomba ini tidak menjadi seremonial belaka, tetapi lebih kepada proses untuk lebih mengkuatkan kembali semangat kekeluargaan, kebersamaan dan kegotongroyongan di wilayah Kabupaten Bandung

 

Baca Juga :