KONDISI BEBAN

KONDISI BEBAN

KONDISI BEBAN

KONDISI BEBAN
KONDISI BEBAN

Pada program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW tahap 1 & 2, banyak dibangun PLTU skala kecil kapasitas 3-30 MW yang bertujuan untuk menggantikan fungsi pembangkit listrik diesel pada daerah-daerah yang jaringan listriknya masih isolated. Sesuai karakteristik operasinya, PLTU pada umumnya adalah merupakan pembangkit beban dasar. Beberapa klaim diajukan bahwa, pada PLTU (skala kecil) yang menggunakan boiler desain tertentu (misal spreader stocker boiler dengan double drum) mampu juga berfungsi sebagai pembangkit yang dapat mengikuti beban yang bervariasi (peak load/load follower). Akan tetapi klaim-klaim tersebut sampai saat ini masih harus dibuktikan, mengingat belum satupun PLTU yang menggunakan spreader stocker boiler yang telah beroperasi dalam jaringan PLN (3 PLTU skala kecil di Ende, Karimun dan Ternate yang merupakan bagian dari Proyek Percepatan Tahap 1 masih dalam tahap penyelesaian).

PLTU skala kecil batch 1 dan 2, di beberapa lokasi, dibangun di daerah yang perbedaan beban puncak dan beban dasar sangat besar, bisa sampai 2 kalinya. Di Rote misalnya, karena masih rendahnya beban, pembangunan PLTU 2 x 3 MW bisa berlebihan. Karena beban dasarnya kurang dari 3 MW. Untuk kasus seperti ini, pada saat beban dasar (siang hari), hanya satu PLTU yang dioperasikan, atau jika keduanya dijalankan maka PLTU tersebut akan beroperasi pada kinerja efisiensi rendah.

PLTU sebagai pembangkit listrik untuk beban dasar, dioperasikan tidak untuk mengikuti perubahan beban yang besar, apalagi harus melakukan operasi start – stop (isochronous operation). Selain karena waktu start PLTU lebih lama dibandingkan dengan beban puncak (seoerti PLTG, PLTA ataupun PLTD), juga operasi start stop yang terlalu sering akan mempengaruhi umur operasi dari PLTU.

Baca Juga :