Pemprov Jatim Tetapkan Aturan Main PPDB

Pemprov Jatim Tetapkan Aturan Main PPDB

Pemprov Jatim Tetapkan Aturan Main PPDB

Pemprov Jatim Tetapkan Aturan Main PPDB
Pemprov Jatim Tetapkan Aturan Main PPDB

Peraturan gubernur (pergub) tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK

sudah tuntas. Dalam waktu dekat, pergub tersebut akan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan, pergub itu sudah ditandatangani oleh gubernur Jawa Timur. Pergub tersebut akan segera disampaikan kepada masyarakat. ”Minggu depan, insya Allah, sudah mulai sosialisasi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

(Permendikbud) Nomor 17/2017 tentang PPDB sudah turun. Kebijakan PPDB di Jawa Timur juga sejalan dengan permendikbud tersebut. Termasuk pada PPDB SMK yang tidak menerapkan batasan zonasi, tanpa batasan kuota luar kota, dan menggunakan tes potensi akademik (TPA).

Khusus SMK, Saiful beralasan, dengan TPA, akan diketahui potensi dan talenta siswa di jurusan yang akan dipilih. Melalui TPA pula, bisa diketahui kemampuan siswa secara menyeluruh. ”Tes minat dan bakat cenderung minat bakat saja, tapi menurut saya, dengan TPA, lebih tahu semuanya,” ungkapnya.

Dia memisalkan siswa yang memilih jurusan teknik permesinan. Kemampuan matematika sangat dibutuhkan untuk jurusan itu. Jika tidak mampu matematika, siswa bisa kewalahan mengikuti pelajaran. ”SMK tidak hanya skill, teori pendukung juga harus kuat,” tuturnya.

Karena itu, ungkap Saiful, tidak ada komposisi antara nilai ujian nasional,

TPA, tes kesehatan, dan tes fisik dalam seleksi masuk SMK. Semuanya akan saling berkaitan. ”Dari nilai unas, lalu hasil TPA, dan mengarah ke jurusan apa. Untuk tes kesehatan, juga tidak ada bobotnya,” ujarnya.

Jika sebelumnya Saiful menyebutkan bahwa siswa yang nilai TPA-nya kurang baik tidak bisa masuk ke jurusan tertentu, kini siswa bisa beralih ke jurusan lainnya. Dengan kata lain, siswa yang dirasa kurang mampu di pilihan jurusan pertamanya bisa dialihkan ke pilihan jurusan kedua. ”Sesuai dengan pilihannya, mereka punya dua pilihan jurusan,” ungkapnya.

Untuk SMA, tidak ada tes apa pun. Seleksi dilakukan melalui nilai ujian nasional. Untuk penjurusan IPA, IPS, dan bahasa, bisa dipetakan sekolah masing-masing. ”Siswa yang memilih juga tidak apa-apa,” katanya.

Sementara itu, pakar psikologi perkembangan dan pendidikan Dewi Retno Suminar menyatakan bahwa mekanisme TPA merupakan tolok ukur untuk menentukan minat siswa dalam kejuruan sebenarnya kurang tepat. Sebab, TPA sebenarnya bukan bertujuan menentukan minat seseorang. ”Kalau penjaringan lolos tidaknya siswa masih relevan, tapi bukan untuk menentukan minatnya ke jurusan tertentu,” tutur dosen psikologi Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Retno menjelaskan, secara psikologi, ada beberapa jenis tes yang bisa digunakan untuk melihat kondisi siswa. Mulai tes prestasi, tes prediksi potensi, hingga tes minat-bakat. Dari jenis itu, bisa dilihat aspek apa saja yang dibutuhkan untuk melihat kondisi siswa.

Untuk TPA, ujar dia, tes tersebut digunakan untuk memprediksi kemampuan belajar siswa. Khususnya untuk melihat potensi siswa selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah. ”Misalnya, selama tiga tahun, anak tersebut mampu atau tidak dalam memahami materi,” ungkapnya.

Penilaian TPA juga tidak didasarkan pada benar tidaknya siswa dalam menjawab soal, melainkan dari aspek logika siswa. Dalam soal TPA, biasanya ada tiga kemampuan pokok yang diujikan. Yakni, aspek numerik, verbal, dan penalaran. Tiga aspek itu nantinya dikalkulasi, lalu ditentukan hasilnya.

Untuk seleksi SMK, Retno menyarankan kepada Dispendik Jawa Timur agar menggunakan tes minat dan bakat dalam penentuan jurusan siswa. Sebab, melalui tes tersebut, kemampuan anak yang condong pada minat tertentu akan terlihat cukup jelas.

Jurusan teknik, misalnya. Siswa yang cocok masuk jurusan tersebut akan memiliki poin tinggi di bidang kemampuan tata ruang. Sementara itu, siswa yang jago di bidang verbal akan cocok masuk ke jurusan pariwisata. ”Dalam tes tersebut, sudah ada beberapa paket yang merangkap kemampuan siswa pada bidang tertentu,” ucapnya.

Mengingat nilai pentingnya, ujar Retno, lebih baik tes itu dilakukan sejak dini. Terutama dalam setiap mekanisme seleksi penjurusan keahlian di SMK. Yakni, sebelum pembelajaran dimulai. Tujuannya, agar siswa tidak salah memilih jurusan.

Agar lebih mudah, tes minat dan bakat siswa sebaiknya dilakukan serentak. Yakni, melibatkan seluruh SMK di wilayah kabupaten/kota bahkan hingga provinsi. Seleksi berbarengan tersebut penting dilaksanakan agar semua siswa dapat masuk di jurusan sesuai minat dan bakatnya.

 

Baca Juga :