Pengertian Sanad Hadits

Pengertian Sanad Hadits

Pengertian Sanad Hadits

Pengertian Sanad Hadits
Pengertian Sanad Hadits

Pengertian Sanad

Sanad secara bahasa sanad berarti al-mu’tamad yaitu yang diperpegangi atau yang bisa dijadikan pegangan.(Mahmud al-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadits (Beirut: Dar Al-Qur’an al-Karim, 1979), h. 20). Atau, dapat juga diartikan “sesuatu yang terangkat (tinggi) dari tanah”.( M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al- Fikr, 1989), h. 32).

Sedangkan secara terminologi, sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan hadits dari sumbernya yang pertama.

Al-Tahanawi mengemukakan definisi yang hampir senada: “Sanad adalah jalan yang menyampaikan kepada matan Hadis, yaitu nama-nama para perawinya secara berurutan”.(Zafar Ahmad ibn Lathif al-‘Utsmani al-Tahanawi, Qawa id fi ‘Ulum al Hadits, ed. ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah (Beirut: Maktabat al-Nah’ah, 1404 H/1984 M), h. 26).

Jalan matan tersebut dinamakan dengan sanad adalah karena musnid berpegang kepadanya ketika menyandarkan matan ke sumbernya. Demikian juga, para Huffazh (Penghafal Hadits) menjadikannya sebagai pegangan (pedoman) dalam menilai sesuatu Hadis, apakah Shahih atau Dha’if. (M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 32).

Sebagai contoh dari sanad adalah seperti yang terlihat dalam Hadis berikut:

Contoh Sanad

Imam Bukhari meriwayatkan, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn al-Mutsanna,ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abd al- Wahhab al-Tsaqafi, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abi Qilabah, dari Anas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada tiga hal yang apabila seseorang memilikinya maka ia akan memperoleh manisnya iman, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, bahwa ia mencintai seseorang hanya karena Allah SWT, dan bahwa ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci masuk ke dalam api neraka”( Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M). 8 jilid: jilid 1, h. 9-10.)

Pada Hadis di atas terlihat adanya silsilah para perawi yang membawa kita sampai kepada matan Hadits , yaitu Bukhari, Muhammad ibn al-Mutsanna, ‘Abd al- Wahhab al-Tsaqafi, Ayyub, Abi Qilabah, dan Anas r.a. Rangkaian nama-nama itulah yang disebut dengan sanad dari Hadis tersebut, karena merekalah yang menjadi jalan bagi kita untuk sampai ke matan Hadis dari sumbernya yang pertama yaitu Rasulullah SAW.

Masing-masing orang yang menyampaikan Hadis di atas, secara sendirian, disebut dengan rawi (perawi/ periwayat), yaitu orang yang menyampaikan, atau menuliskan dalam suatu kitab, apa yang pernah didengar atau diterimanya dari seseorang (gurunya).(M Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits (Bandung: Angkasa, 1991), h. 17).

Dengan demikian, apabila kita melihat contoh Hadis di atas, maka Hadits tersebut diriwayatkan oleh beberapa orang perawi, yaitu: Anas r.a, sebagai perawi pertama.
Abi Qilabah, sebagai perawi kedua.
Ayyub, sebagai perawi ketiga.
Abd al-Wahhab al-Tsaqafi, sebagai perawi keempat.
Muhammad ibn al-Mutsanna, sebagai perawi kelima.
Bukhari, sebagai perawi keenam atau perawi terakhir.

Imam Bukhari sebagai perawi terakhir dapat juga disebut sebagai mukharrij , yaitu orang yang telah menukil atau mencatat sesuatu Hadis pada kitabnya, dan dari segi ini Bukhari adalah orang yang mentakhrij Hadis di atas.

Apabila kita melihat dari segi sanad, yaitu jalan yang menyampaikan kita kepada matan Hadis, maka urutannya adalah sebagai berikut: Muhammad ibn al-Mutsanna sebagai sanad pertama atau awwal al-sanad
‘Abd al-Wahhab al-Tsaqafi sebagai sanad kedua.
Ayyub sebagai sanad ketiga.
Abi Qilabah sebagai sanad keempat.
Anas r.a. sebagai sanad kelima atau akhir sanad.

Ada beberapa istilah yang erat hubungannya dengan sanad, yaitu isnad, musnad, dan musnid.

a. Isnad

Isnad secara etimologi berarti menyandarkan sesuatu kepada yang lain.( T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits I (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), h. 43).

Sedangkan menurut istilah, isnad berarti : Mengangkat Hadits kepada yang mengatakannya (sumbernya), yaitu menjelaskan jalan matan dengan meriwayatkan Hadis secara musnad.(M. Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 32; Mahmud al-Thahhan. Taisir, h. 15; Ash- Shiddieqy. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits I. h 43)

Di samping itu, isnad dapat juga diartikan dengan menceritakan jalannya matan.(Zhafar al-Tahanawi, Qawa id fi Ulum al-Hadits. h. 26.)

b. Musnad

Musnad adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja asnada, yang berarti sesuatu yang disandarkan kepada yang lain.

Secara terminologi, musnad mengandung tiga pengertian, yaitu:
Pertama:
Hadis yang bersambung sanad-nya dari perawinya (dalam contoh sanad di atas adalah Bukhari) sampai kepada akhir sanadnya (yang biasanya adalah Sahabat, dan dalam contoh di atas adalah Anas r. a.).

Dengan pengertian ini tercakup di dalamnya Hadis Marfu’ (yang disandarkan kepada Rasul SAW), Mawquf (yang disandarkan kepada Sahabat), dan Maqthu’ (yang disandarkan kepada Tabi’in). Akan tetapi, pada umumnya penggunaan istilah musnad di kalangan Ulama Hadits, adalah terhadap berita yang datang dari Nabi SAW dan bukan yang datang dari selain beliau. Al-Hakim dan para ahli Hadis lainnya secara tegas menyatakan:
“Tidak dipergunakan (yaitu istilah musnadj kecuali terhadap Hadis Marfu’ dan Muttashil (bersambung sanad-nya), dan itulah pendapat yang paling sahih”.

Kedua:
Kitab yang menghimpun Hadits – Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat, seperti Hadis-Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar r.a. dan lainnya. Contohnya, adalah kitab Musnad Imam Ahmad.

Ketiga:
Sebagai mashdar (mashdar mimi) mempunyai arti sama dengan sanad.

c. Musnid

Kata musnid adalah isim fa’il dari asnada-yusnidu, yang berarti “orang yang menyandarkan sesuatu kepada yang lainnya”. Sedangkan pengertiannya dalam istilah Ilmu Hadis adalah: Musnid adalah setiap perawi Hadits yang meriwayatkan Hadits dengan menyebutkan sanadnya, apakah ia mempunyai pengetahuan tentang sanad tersebut, atau tidak mempunyai pengetahuan tentang sanad tersebut, tetapi hanya sekadar meriwayatkan saja. (Zhafar al-Tahanawi, Qawa’id fi ‘Ulurn al-Hadits. h. 26; Mahmud al-Thahhan Taisir, h.16.)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/