Rukun dan Syarat Wakalah

Rukun dan Syarat Wakalah

Rukun dan Syarat Wakalah

Rukun dan Syarat Wakalah
Rukun dan Syarat Wakalah

 

Rukun Wakalah

Rukun Wakalah adalah:
a) al muwakkil (orang yang mewakilkan/ melimpahkan kekuasaan)
b) al wakil ( orang yang menerima perwakilan)
c) al muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan)
d) Sighat ( ucapan serah terima)

Syarat Wakalah

Sebuah akad Wakalah dianggap syah apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Orang yang mewakilnya (muwakkil) syaratnya dia berstatus sebagai pemilik urusan/benda dan menguasainya serta dapat bertindak terhadap harta tersebut dengan dirinya sendiri. Jika muwakkil itu bukan pemiliknya atau bukan orang yang ahli maka batal. Dalam hal ini, maka anak kecil dan orang gila tidak sah menjadi muwakkil karena tidak termasuk orang yang berhak untuk bertindak.

2) Wakil (orang yang mewakili) syaratnya ialah orang berakal. Jika ia idiot, gila, atau belum dewasa maka batal. Tapi menurut Hanafiyah anak kecil yang cerdas (dapat membedakan mana yang baik dan buruk) sah menjadi wakil alasannya bahwa Amr bin Sayyidah Ummu Salamah mengawinkan ibunya kepada Rasulullah, saat itu Amr masih kecil yang belum baligh. Orang yang sudah berstatus sebagai wakil ia tidak boleh berwakil kepada orang lain kecuali seizin dari muwakkil pertama atau karena terpaksa seperti pekerjaan yang diwakilkan terlalu benyak sehingga tidak dapat mengerjakannya sendiri maka boleh berwakil kepada orang lain. Si wakil tidak wajib untuk menanggung kerusakan barang yang diwakilkan kecuali disengaja atau cara di luar batas.

3) Muwakkal fih (sesuatu yang diwakilkan), syaratnya:

(a) Pekerjaan/urusan itu dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang lain. Oleh karena itu, tidak sah untuk mewakilkan untuk mengerjakn ibadah seperti salat, puasa dan membaca al-Qur’an.
(b) Pekerjaan itu dimiliki oleh muwakkil sewaktu akad Wakalah. Oleh karena itu, tidak sah berwakil menjual sesuatu yang belum dimilikinya.
(c) Pekerjaan itu diketahui secara jelas. Maka tidak sah mewakilkan sesuatu yang masih samar seperti “aku jadikan engkau sebagai wakilku untuk mengawini salah satu anakku”.
(d) Shigat:shigat hendaknya berupa lafal yang menunjukkan arti “mewakilkan” yang diiringi kerelaan dari muwakkil seperti “saya wakilkan atau serahkan pekerjaan ini kepada kamu untuk mengerjakan pekerjaan ini” kemudian diterima oleh wakil. Dalam shigat kabul si wakil tidak syaratkan artinya seandainya si wakil tidak mengucapkan kabul tetap dianggap sah.

Baca Juga: