Smart Parking, Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir

Smart Parking, Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir

Smart Parking, Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir

Smart Parking, Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir
Smart Parking, Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir

Lahan parkir yang terbatas dan sulit dijangkau pandangan seringkali menjadi permasalahan masyarakat.

Hal inilah yang menginspirasi seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menciptakan Smart Parking, sebuah sistem parkir otomatis yang dapat menginformasikan ketersediaan lahan parkir tanpa perlu berkeliling terlebih dahulu.

Adalah Labib Izzatur Rahman, mahasiswa Departemen Sistem Informasi ITS, seorang inovator dari sistem Smart Parking ini yang telah diwisuda, Sabtu (14/9). Keresahan awal yang mendasari diciptakannya sistem Smart Parking ini tidak lain karena banyaknya kasus pengunjung pusat perbelanjaan yang harus berkeliling tiap lantai terlebih dahulu untuk mencari lahan parkir. Lebih dari itu, tak sedikit pula dari mereka yang harus keluar kembali karena lahan parkir yang sudah penuh.

Sistem yang sekaligus menjadi Tugas Akhir (TA) pemuda yang kerap disapa Labib ini,

merupakan sebuah perangkat terintegrasi yang berbasis Arduino untuk mengolah inputasi data. Berdasarkan fungsi dan lokasi penempatannya, sistem Smart Parking ini terdiri dari dua perangkat yang masing-masing terletak di gerbang masuk dan atap tiap-tiap lahan parkir.

BACA JUGA – Wisudawan Tertua ITS Lulus di Usia 71 Tahun

“Perangkat di gerbang berfungsi untuk mendeteksi kendaraan yang masuk, sedangkan yang terletak di atap lahan parkir fungsinya untuk menginput data lahan parkir yang masih kosong atau sudah terisi,” terang mahasiswa angkatan 2015 ini.

Sistem yang masih berbentuk prototipe ini, lanjut Labib, memerlukan tiga perangkat keras

utama agar dapat berfungsi. Yakni prototipe sensor beserta perangkatnya, router, serta laptop sebagai server utama. Jenis sensor yang digunakan dalam sistem Smart Parking ini adalah sensor ultrasonik yang menggunakan jarak sebagai ukuran baca detektornya. Sensor ini digunakan di kedua perangkat, baik di gerbang maupun di atap lahan parkir.

“Untuk sensor di atap lahan parkir, saya atur supaya bisa mendeteksi objek dengan ukuran minimal dua per lima dari tinggi total lahan parkir tersebut,” ulas wisudawan kelahiran 1997 ini.

Untuk luaran sensor sendiri, dirinya memberi perangkat berbeda antara sensor gerbang dan atap lahan parkir. Untuk di gerbang, Labib menggunakan perangkat bernama motoservo untuk menggerakkan portal gerbang. Sedangkan di atap lahan parkir, dua buah lampu LED berwarna merah dan hijau lah yang digunakan.

“Saat sebuah lahan parkir terisi, LED yang awalnya hijau akan berubah menjadi merah, sedangkan portal akan terbuka saat terdapat lahan parkir yang kosong, dan tetap tertutup saat sudah penuh,” jelas arek Suroboyo ini.

Informasi ketersediaan lahan pun, menurut Labib, dapat diakses pengunjung melalui situs web terkait. Di sana akan nampak informasi ketersediaan lahan parkir yang disajikan dengan warna hijau. Sebagai fitur tambahan, terdapat juga fitur ‘Reservasi’ yang dapat dipesan sebelum pengunjung datang. Namun fitur ini membutuhkan seorang admin untuk mengoperasikannya, tidak otomatis.

“Lahan yang telah dipesan akan berwarna merah meskipun kosong, namun akan menjadi hijau kembali ketika admin menekan tombol khusus yang menandakan sang pemesan telah datang,” sambungnya.

Labib mengklaim, sistem hasil bimbingan Dr Eng Febrilyan Samopa SKom MKom ini sangat efektif untuk diterapkan di berbagai tempat, terutama pusat-pusat perbelanjaan yang menggunakan lahan parkir bertingkat. Secara biaya pun, sistem Smart Parking ini jauh lebih murah dibanding sistem Secure Park yang banyak digunakan di pusat-pusat perbelanjaan saat ini.

“Secara efektivitas juga lebih tinggi daripada mempekerjakan juru parkir manual, sehingga dapat saya katakana peluang untuk pengimplementasiannya cukup besar, hanya tinggal mencari pasarnya saja,” pungkasnya optimistis. (Red)

 

Baca Juga :