Pusdatin Kemendikbud Minta Guru SMA se-Kota Malang Melek Media

Pusdatin Kemendikbud Minta Guru SMA se-Kota Malang Melek Media

Pusdatin Kemendikbud Minta Guru SMA se-Kota Malang Melek Media

Pusdatin Kemendikbud Minta Guru SMA se-Kota Malang Melek Media
Pusdatin Kemendikbud Minta Guru SMA se-Kota Malang Melek Media

Arus perkembangan teknologi yang berjalan begitu cepat harus diimbangi

dengan sumber daya manusia. Bahkan hampir setiap hari elektronik ataupun teknologi tak lepas dalam genggaman tangan manusia. Teknologi yang semakin canggih saat ini tak hanya digunakan oleh dunia industri tetapi juga sudah mulai dimanfaatkan untuk pendidikan.
Hal itulah yang disampaikan oleh pihak dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam sosialiasi bertajuk “Fasilitasi Pemanfaatan Rumah Belajar Menuju Digitalisasi Pendidikan” terhadap 100-an orang guru se-Kota Malang di SMAN 8 Kota Malang, Rabu (22/1/2020) hingga Kamis (23/1/2020) ini.
Dr. Mansur Fauzi PTP, Ahli Utama Pusdatin Kemendikbud mengatakan kegiatan ini perlu dilakukan dalam rangka penguatan pemanfaatan dan pendayagunaan teknologi informatika. Saat ini, semua aspek kehidupan sudah menggunakan teknologi oleh karena itu digital sangat penting digunakan di dunia pendidikan.
“Kami melakukan sosialiasi sudah keliling ke berbagai daerah, dan saya sebagai bagian kecil sampek mengenalkan ke daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar, red) memperkenalkan agar tidak tertinggal jauh,” paparnya.

Dia juga menambahkan segala sesuatu apabila belum dilakukan akan terlihat sulit

, namun jika sudah tidak sulit lagi.
“80% sudah menggunakan IT, siswanya lari kencang, karena kemampuan IT, anak milenial cepat sekali. Makanya gurunya juga nggak boleh ketinggalan,” terangnya.
Oleh karena itu, ia juga menyebut bahwa salah satu yang harus dilakukan oleh guru adalah tentang pemanfaatan era digital untuk membuat konten pembelajaran yang berkualitas.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam sebuah penelitian, sebanyak 800.000 konten yang dimuat di YouTube merupakan konten negatif. Sedangkan hanya sekitar 250.000 konten saja yang dianggap positif.

“Kasihan generasi muda kita, siswa kita, anak-anak kita kalau disuguhi konten negatif terus,” bebernya.

Oleh karena itu, ia berharap guru bisa membuat konten yang berkualitas agar bisa memeinimalisir pemaparan hal negatif dari dunia digital.
ADVERTISEMENT
“Jumlah guru itu hampir 4 juta. Kalau satu guru saja satu (unggah konten positif, red), maka akan ada 4 juta konten. Kita upload (unggah) itu ke YouTube, maka habis itu. Yang negatif terlindas,” pungkasnya.

 

Baca Juga :