Umum

Folklore yang berasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore

Fabel Lalu, Kini, dan Nanti

Folklore adalah kumpulan budaya ekspresif yang dimiliki oleh sekelompok orang tertentu. Ini mencakup tradisi yang sama dengan budaya, subkultur atau kelompok tersebut. Ini termasuk tradisi lisan seperti dongeng, ungkapan dan lelucon. Mereka termasuk budaya material, mulai dari gaya bangunan tradisional hingga mainan buatan tangan yang umum dilakukan kelompok ini. Cerita rakyat juga mencakup pengetahuan adat, bentuk dan ritual perayaan seperti Natal dan pernikahan, tarian rakyat dan ritus inisiasi. Masing-masing, baik secara tunggal atau kombinasi, dianggap sebagai artefak cerita rakyat. Sama pentingnya dengan bentuknya, Folklore juga mencakup transmisi artefak ini dari satu wilayah ke daerah lain atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Folklore yang berasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore. Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dunles adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal fisik itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu suatu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Di samping itu bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka. Jadi folk adalah sinonim dari kolektif, yang juga memiliki cirri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.

Lore adalah tradisi folk,

yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu pengingat. Definisi folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.(Sibarani, 2013)

Folklore mulai membedakan diri sebagai disiplin sendiri selama periode nasionalisme romantisisme di Eropa. Tokoh dalam perkembangan ini adalah Johann Gottfried von Herder, dalam tulisan-tulisannya pada tahun 1770-an mempresentasikan tradisi lisan sebagai proses organik yang berada di lokasi. Setelah negara-negara Jerman diserang oleh Napoleon Prancis, pendekatan Herder diadopsi oleh banyak orang Jerman yang mensistematisasikan Folklore yang tercatat dan menggunakannya dalam proses pembangunan bangsa mereka. Proses ini dengan antusias ditiru oleh negara-negara yang lebih kecil seperti Finlandia, Estonia, dan Hungaria, yang sedang mencari kemerdekaan politik dari tetangga mereka yang dominan. (Noyes, 2012)

Dalam buku The Types of the Folktale, Anti Aarne dan Stith Thompson membagi dongeng dalam Folklore menjadi empat bagian (Danandjaya, 1991):
1. Dongeng binatang (animal tales)
2. Dongeng biasa (ordinary folktales)
3. Lelucon dan Anekdot (jokes & anecdote)
4. Dongeng Berumus (formula tales)

Dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai dongeng binatang atau yang biasa kita kenal dengan fabel. Dongeng binatang atau fabel adalah salah satu karya sastra yang menampilkan binatang, makhluk legendaris, tumbuhan, benda mati, atau kekuatan alam yang antropomorfis dengan kualitas manusia, seperti kemampuan untuk berbicara bahasa manusia dan yang menggambarkan atau mengarah pada pelajaran moral tertentu, yang pada akhirnya dapat ditambahkan secara eksplisit sebagai pepatah yang bernas.

Salah satu fabulis terkemuka zaman Yunani yang bernama Aesop seorang budak yang hidup pada masa 620 – 564 SM menjadi salah satu pioneer dalam penulisan fabel. Hasil karya Aesop berjumlah 725 seperti yang telah diungkapkan oleh Ben Edwin Perry yang telah mengindekskan Aesop Fabel dalam Perry Index. Sedangkan fable-fabel yang berkembang di Indonesia banyak sekali pengaruhnya dari kawasan India karena erat sekali dengan pengaruh Hindu dari abad VII-XIII. Snouck Hurgronje, seorang warga negara Belanda yang mendalami penelitian daerah di Aceh, menemukan naskah fabel yang ditulis oleh seorang Aceh yang belum diketahui namanya. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia juga telah berkembang literasi penulisan fabel. (Madjid, 2014)

POS-POS TERBARU