Umum

Masyarakat digolongkan berdasarkan agama

Bidang Keagamaan dan Sosial Turki

• Bidang keagamaan
Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah faktor penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan Dinasti sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa para ulama’ menjadi hukum yang berlaku. Para Ulama’ memiliki peranan penting dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat urusan agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum Dinasti bisa tidak berjalan.
Kehidupan keagamaan pada masyarakat Dinasti Turki Usmani mengalami perkembangan dan kemajuan, termasuk dalam hal ini adalah Tarekat. Tarekat yang berkembang ialah Tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil maupun militer. Tarekat Bektasyi memiliki pengaruh yang sangat dominan di kalangan Yenisseri, sehingga mereka sering disebut tentara Bektasyi. Sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Yenisseri Bektasyi.
Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam, seperti Fiqh, Ilmu Kalam, Tafsir, dan Hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya. Sultan Abdul Hamid misalnya, begitu fanatik terhadap aliran al-Asy’ariah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Sultan memerintahkan kepada Syaikh Husein al-Jisr ath-Tharablusi menulis Kitab al-Husun al-Hamidiyyah (Benteng Pertahanan Abdul Hamid), yang mengupas tentang masalah ilmu kalam, untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatisme yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Para Ulama’ hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya klasik

• Bidang Sosial

Masalah sosial ditemukan gejala yang menarik. Seperti diketahui orang-orang Turki dikenal bangsa yang mudah berasimilasi dengan bangsa lain dan terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dari lingkungan sosial asing. Mereka ternyata dapat menerima kehadiran orang-orangKristen secara baik, bahkan banyak orang-orang Kristen sampai menduduki jabatan strategis di kerajaan. Hal tersebut menandakan adanya hubungan harmonis antara kelompok agama.
Fenomena sosial ini juga dapat dilihat dalam bentuk peradilan. Penguasa tidak hanya mendirikan peradilan satu syariat saja, namun juga mendirikan bentuk peradilan sesuai dengan perkembangan zaman. Jenis-jenis lembaga ini terdapat lima model yaitu : 1. Peradilan syariah untuk orang Muslim, 2. Peradilan campuran untuk sengketa yang berlainan agama. 3. Peradilan adat untuk menyelesaikan masalah keseharian, 4. Peradilan milly untuk agama bukan Islam, 5. Peradilan Qunshuliy guna mengadili orang asing sesuai dengan hukuman yang berlaku di negerinya sendiri.


Sumber: https://ngegas.com/