Umum

Patofisiologi PTSD

Patofisiologi PTSD

            Beberapa penelitian menunjukan bahwa bagian otak amigdala adalah kunci dari PTSD, ditunjukan bahwa pengalaman yang traumatik dapat merangsang bagian tersebut untuk menimbulkan rasa takut yang dalam terhadap kondisi-kondisi yangmungkin menyebabkan kembalinya pengalaman traumatic tersebut. Amigdala dan berbagai struktur lainnya seperti hipotalamus, bagian abu-abu otak dan nucleus,mengaktifkan neurotransmitter dan endokrin untuk menghasilkan hormone-hormon yang berperan dari berbagai gejala PTSD. Bagian otak depan (frontal) sebenarnya berfungsi untuk menghambat aktivasi rangkaian ini, walaupun begitu pada penelitianterhadap orang-orang yang mengalami PTSD, bagian ini mengalami kesulitan untuk menghambat aktivasi system amigdala.

            Amigdala menerima informasi berupa rangsangan eksternal. Hal ini kemudian memicu respon emosional termasuk “fight, flight, or freezing” dan perubahan dalam hormon stress dan katekolamin. Hipokampus dan korteks prefrontal medial (gambar 1) mempengaruhi respon amigdala dalam menentukan respon ketakutan akhir.  Ketika kita dalam keadaan takut dan terancam, tubuh kita mengaktifkan respon fight or flight . Dalam reaksi ini tubuh mengeluarkan adrenalin yang menyebabkan peningkatan tekanan darah,denyut jantung, glikogenolisis. Setelah ancaman bahaya itu mulai hilang makatubuh akan memulai proses inaktivasi respon stress dan proses ini menyebabkan pelepasan hormon kortisol. Jika tubuh tidak melepaskan kortisol yang cukup untuk menginaktivasi reaksi stress maka kemungkinan kita masih akan merasakan efek stress dari adrenalin.

            Pada korban trauma yang berkembang menjadi PTSD seringkali memiliki hormon stimulasi (katekolamin) yang lebih tinggi bahkan pada saat kondisi normal. Hal ini mengakibatkan tubuh terus berespon seakan bahaya itu masih ada. Setelah sebulan dalam kondisi ini, di mana hormon stres meningkat pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Beberapa studi telah menemukan konsentrasi kortisol rendah orang dengan post-traumatic stress disorder dan berlawanan menanggapi penindasan deksametason tes daripada yang terlihat dengan depresi berat.

Dampak PTSD

            Gangguan stress pascatraumatik ternyata dapat mengakibatkan sejumlah gangguan fisik, kognitif,emosi,behavior (perilaku),dan sosial.

Gejala gangguan fisik:

–    pusing,

–    gangguan pencernaan,

–    sesak napas,

–    tidak bisa tidur,

–    kehilangan selera makan,

–   impotensi, dan sejenisnya.

Gangguan kognitif:

–   gangguan pikiran seperti disorientasi,

–   mengingkari kenyataan,

–   linglung,

–   melamun berkepanjangan,

–   lupa,

–   terus menerus dibayangi ingatan yang tak diinginkan,

–   tidak fokus dan tidak konsentrasi.

–   tidak mampu menganalisa dan merencanakan hal-hal yang sederhana,

–   tidak mampu mengambil keputusan.

Gangguan emosi :

–    halusinasi dan depresi (suatu keadaan yang menekan, berbahaya, dan memerlukan perawatan aktif yang dini),

–   mimpi buruk,

–   marah,

–    merasa bersalah,

–   malu,

–   kesedihan yang berlarut-larut,

–   kecemasan dan ketakutan.

Gangguan perilaku :

–    menurunnya aktivitas fisik, seperti gerakan tubuh yang minimal. Contoh, duduk berjam-jam dan perilaku repetitif (berulang-ulang).

Gangguan sosial:

–    memisahkan diri dari lingkungan,

–   menyepi,

–   agresif,

–   prasangka,

–   konflik dengan lingkungan,

–   merasa ditolak atau sebaliknya sangat dominan.

 

Sumber: https://newsinfilm.com/