Pelangi Bulat Sempurna di Tenggara Inggris
Teknologi

Pelangi Bulat Sempurna di Tenggara Inggris

Pelangi Bulat Sempurna di Tenggara Inggris

Pelangi Bulat Sempurna di Tenggara Inggris
Pelangi Bulat Sempurna di Tenggara Inggris

FENOMENA alam di dunia diketahui sangat beragam. Terkadang fenomena itu diidentikkan dengan keindahan dan nilai estetika. Salah satu fenomena alam yang digemari manusia ialah pelangi. Secara definitif pelangi merupakan fenomena alam yang berasal dari fenomena optis dan meteorologi yang berupa cahaya warna-warni yang terstruktur di langit, yang terbentuk dari proses pembelokan cahaya (pembiasan) matahari oleh butiran air hujan.

Banyak orang yang menganggap pelangi tidak akan tercipta jika

tidak terjadi hujan. Ada juga pemahaman yang lain bahwa terciptanya pelangi akan lebih bergantung pada penutup awan ketimbang jenis atau curah hujan yang menerima sinar matahari. Jika sinar matahari bersinar di atas butiran air di awan, air akan merefleksikan cahaya serta membiaskan berbagai warna. Berangkat dari pemahaman sebelumnya, minggu lalu terlihat sebuah fenomena pelangi yang tidak biasa bahkan dapat terbilang langka.

Jika biasanya bentuk sempurna dari sebuah pelangi ialah menyerupai sebuah busur atau setengah lingkaran, pelangi yang satu ini berbentuk sebuah lingkaran utuh atau melingkar penuh 360 derajat. Adalah Bernie Welch, 63, manajer teknis gedung, yang menyaksikan fenomena pelangi melingkar penuh (circular rainbow) dengan ukuran raksasa di langit Portsmouth, Inggris, Selasa (22/11), pukul 08.00 waktu setempat dari View Deck 1 menara Emirates Spinnaker yang berketinggian 100 meter.

Welch mengaku beruntung menyaksikan secara jelas bentuk

dan warna pelangi tersebut selama sekitar 15 menit sebelum memudar. Mengapa dapat berbentuk lingkaran penuh? Perlu untuk diketahui, secara umum bentuk pelangi ialah melingkar. Jika manusia memandangnya, seakan pelangi tersebut berbentuk setengah lingkaran dan memiliki dua ujung atau memiliki akhir. Sudut pandang penglihatan manusia yang sejajar dengan dataran/tanah menyebabkan mata hanya membatasi penglihatannya.

Padahal terdapat juga pembiasan cahaya yang berada di sisi setengah

lengkungan bawah yang tidak terlihat oleh kasatmata karena tidak terdapat butiran air di sisi dataran tersebut. Dalam menemukan fenomena langka itu, manusia harus mengambil sudut pandang yang berlawanan dari biasanya. Manusia perlu berada pada posisi yang lebih tinggi dari dataran bumi.

 

Baca Juga :