Rukun Dan Syarat-Syarat Khulu
Agama

Rukun Dan Syarat-Syarat Khulu

Rukun Dan Syarat-Syarat Khulu

Rukun Dan Syarat-Syarat Khulu
Rukun Dan Syarat-Syarat Khulu

Rukun secara bahasa, رُكْنٌ ج اَرْكَانٌ artinya tiang, pihak yang kuat atau juzu’.
Sedangkan rukun menurut istilah adalah bagian yang harus terpenuhi yang batal jika tidak terpenuhi.
Syarat menurut bahasa, شَرْطٌ ج شُرُوْطٌ yang berarti menentukan.
Sedangkan syarat menurut istilah adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantung wujudnya hukum. Tidak ada syarat berarti pasti tidak adanya hukum, tetapi wujudnya syarat tidak pasti wujudnya hukum

Adapun rukun dan syarat khulu sebagai berikut:

1. Harta atau Barang yang dipakai untuk khulu

Dalam hal ini, syarat khulu bisa dilihat dari segi:

a. Kadar harta yang boleh dipakai untuk khulu

Imam Malik, Syafi’i dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa seorang isteri boleh melakukan khulu dengan memberikan harta yang lebih banyak dari mahar yang pernah diterimanya dari suami jika kedurhakaan itu datang dari pihaknya, atau juga memberikan yang sebanding dengan mahar atau lebih sedikit. Akan tetapi segolongan ulama di antaranya Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ishak bin Rawaih berpendapat bahwa tidak boleh suami menerima tebusan isteri (yang melakukan khuluk) lebih dari mahar yang diberikan dahulu. Yang demikian ini juga pendapat dari Sa’id bin Musayyab, Atha, Amar bin Syua’ib, Az Zuhri dan Rabi bin Anas.[28] Hal ini sesuai dengan hadits Nabi :
جَاءَتْ اِمْرَءَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ بْنِ شَمَّاسِ ِالَي رَسُوْلِ اللهِ صَ مَ. فَقَالَتْ :يَارَسُوْلَ اللهِ مَا اَعْتَبُ عَلَيْهِ فِيْ خُلُقٍ وَلاَ دِيْنٍ وَلَكِنْ اَكْرَهُ الكُفْرُ فِيْ اللاِسْلامِ. فَقَالَ رَسُوْلُ .اَتُرِدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيْقَتَهُ؟ قَالَتْ :نَعَمْ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : اِقْبَلِ الحَدِيْقَةَ وَ طَلِّقْهَا تَطْلِيْقَةً[29
Dan tidak sah melakukan khulu tanpa menyebutkan iwadh. Seperti kamu aku talak dengan uang 1000 maka bukan khulu tetapi talak raj’i sebab khulu perlu adanya qabul.

b. Sifat harta pengganti

Imam Syafi’i dan Abu Hanifah mensyaratkan bahwa harta tersebut harus dapat diketahui sifat dan wujudnya. Sedangkan Imam Malik membolehkan harta yang tidak diketahui kadar dan wujudnya, serta harta yang belum ada. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya kemiripan harta pengganti (khulu) dengan harta pengganti dalam hal jual beli, barang hibah atau wasiat. Bagi fuqaha yang mempersamakan harta pengganti dalam khulu dengan jual beli dan harta pengganti dalam jual beli. Sedang bagi fuqaha yang mempersamakan harta pengganti dalam khulu dengan hibah, mereka tidak menetapkan syarat-syarat tersebut. Tentang khulu yang dijatuhkan dengan barang-barang, seperti minuman keras, fuqaha berselisih pendapat: apakah isteri harus mengganti atau tidak, setelah mereka sepakat bahwa talak itu dapat terjadi. Imam Malik menyatakan bahwa isteri tidak wajib menggantinya. Demikan juga pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa isteri wajib mengeluarkan mahar mitsil.

c. Keadaan yang dapat dan tidak dapat untuk menjatuhkan khulu

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa khulu boleh diadakan berdasarkan kerelaan suami isteri, selama hal itu tidak merugikan pihak isteri. Berdasarkan fiman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 19:
وَلاَ تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضٍ مَّا ءَاتَيْتُمُوْهُنَّ أِلاَّ أَنْ يَأتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata”

2. Isteri sebagai penuntut khulu

Para fuqaha sepakat bahwa isteri yang mengajukan khulu kepada suaminya itu wajib sudah baligh dan berakal sehat. Mereka juga sepakat bahwa isteri yang safih (idiot) tidak boleh mengajukan khulu tanpa ijin walinya. Sedangkan budak tidak boleh mengadakan khulu untuk dirinya kecuali dengan seizin tuannya.

Selanjutnya Imam Syafi’i berkata khulu dalam keadaan sakit maupun sehat hukumnya boleh sebagaiamana jual beli dalam keadaan keduanya itu. Apabila isteri mengadakan khulu sebesar mahar mitsilnya, maka hal itu diperbolehkan, dan harta tersebut diambil dari sebagian dari harta pokok. Apabila lebih dari mahar mitsil, maka tambahan tersebut harus dari sepertiga dari harta pokok.

3. Sighat khulu

Para ahli fikih berpendapat bahwa khulu harus diucapkan dengan kata khulu atau lafadz yang diambil dari kata dasar khulu atau kata lain yang mempunyai arti seperti itu, seperti mubara’ah (berlepas diri) atau fidyah(tebusan).[42] Contoh sighat khulu “khuluklah aku dengan 10000” atau “lepaskan aku dengan uang 10000” maka suami berbuat dan kemudian mendapat 10000 dari isterinya. Namun jika tidak dengan kata khulu atau kata lain yang sama maksudnya, misalnya suami berkata kepada isterinya “engkau tertalak sebagai imbalan dari pada barang atau uang seharga sekian”, lalu isterinya mau menerimanya. Maka pernyatan ini adalah talak dengan imbalan harta bukan khulu.

Sebagaimana firman Allah SWT:
الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَأِمْسَاكٌ بِمَعْرُوْفٍ أَوْ تَسْرِيْحُ بِأِحْسَانٍ
Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.

Sumber: www.dutadakwah.org