Sejarah Perkembangan Oksidentalisme
Pendidikan

 Sejarah Perkembangan Oksidentalisme

 Sejarah Perkembangan Oksidentalisme

 Sejarah Perkembangan Oksidentalisme

Pada abad 17 hingga abad 18 M adalah masa disintegrasi kekuasaan Islam, hilangnya rasionalisme dan mengentalnya sufisme dalam kehidupan masyarakat Islam merupakan fenomena yang menganjal dan sekaligus sebagai pertanda bagi degradasi Islam. Sebaliknya, pada waktu itu pula dunia Barat sedang mencapai prestasi di bidang sains dan teknologi.Sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan dan melepaskandiri dari cengkraman kolonial Barat, dunia Islam, terutama Mesir dan Turki melakukan studi tentang kemajuan-kemajuan Barat baik di bidang sains dan teknologi. Oleh karena itu, beberapa delegasi pelajar dikirim ke Barat untuk mendalami ilmu di sana. Sekitar dua abad,merekaberguru terhadap orang Barat dalam berbagai hal, namun hal tersebut belum bisa mengantarkan dunia Islam kepada kemajuan yang diharapkan. Sementara studi tentang pemikiran atau filsafat Barat masih terlalu prematur, sehingga studi tersebut belum memuaskan dan memberi konstribusi bagi Intelektual Islam. Ketidakpuasan kajian tesebut, setidaknya dapat dilihat dari dua faktor. Pertama, kajian yang ada masih sarat dengan subyektifitas. Kedua, kajian yang ada hanya sekadar promosi peradaban orang lain yang kering dari kritisisme.[3]

Barat yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan umat Islam dengan berbagai produknya membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif itu kemudian menjadi problem bagi kemajuan dunia Islam. Oksidentalisme digagas sebagai bentuk respon terhadap problemtersebut yang berupa tantangan modernitas.

Menurut Hasan Hanafi, oksidentalisme yang dibangunnya mempunyai akar sejarah dalam khasanah keilmuan Islam, karena hubungan antara dunia Islam dengan Barat tidak hanya terjadi pada abad modern, melainkan telah dimulai sejak 12 abad yang silam. Hal itu terjadi ketika ulama berhadapan dengan filsafat Yunani.[4]

Studi oksidentalisme ketika Islam berada pada puncak kejayaanya dan sebagai pusat peradaban dunia. Pada awalnya, umat Islam lebih bersikap pasif dalam mengkaji budaya dan pemikiran Yunani. Kajian dalam fase ini, ditekankan hanya untuk mengetahui pemikiran-pemikiran tersebut kemudian dialihbahasakan secara tekstual kedalam bahasa Arab, tanpa melakukan kajian lebih kritis. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi dilakukanya penerjemahan secara tekstual, antara lain:untuk menjaga validitas bahasa, keterbatasan bahasa Arab dalam memahami tema-tema baru yang tidak dijumpai sebelumnya, danmembangun logika yang belum dimiliki oleh umat Islam. Olehkarenanya, fase ini disebut dengan masa terjemahan tekstua

sumber :

Battlestation Harbinger 2.0.3 Apk + Mod Money