Umum

taqdiirnya adalah

Pengertian Puasa

Arti ash-Shiyam, secara etimologi atau asal-usul kata adalah menahan diri dari sesuatu. Bila seseorang menahan diri untuk tidak bicara atau makan secara bahasa ia disebut sha-im.
Sementara itu, secara terminologi atau istilah syara’, puasa adalah menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar (fajar shadiq) hingga terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.

C. Penafsiran al-Qur’an tentang Puasa Menurut Tafsir al-Munir

1. Surah al-Baqarah (2) : 183
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
a. I’raab:
(كَمَا كُتِبَ) huruf kaf menempati kedudukan nashb karena ia menjadi sifat bagi mashdar yang dihapusnya, taqdiirnya adalah (كتب عليكم الصيام كتابتة كماكتب ) dan kata maa adalah mashdariyyah, sehingga ia bermakna: (مثل كتا بته); atau karena ia menjadi haal dari kata ash-shiyaam, taqdiirnya adalah (كتب عليكم الصيام مشبهاكماكتب على الذين من قبلكم).
b. Balaaghah:
(كَمَا كُتِبَ) ini adalah tasybiih yang dikenal dengan istilah tasybiih mursal mujmal. Tasybiih di sisni berkenaan dengan kewajiban puasa, bukan tata caranya.
c. Mufradat lughawiyyah:
( كتب ) diwajibkan. ( الصيام ) dalam bahasa Arab, shiyaam artinya menahan diri dari sesuatu dan meninggalkannya. Sedang artinya dalam istilah syariat adalah menahan dari makan, minum, dan jimak sejak fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat dari orang yang memenuhi syarat puasa, demi mengharap pahala dari Allah dan mempersiapkan jiwa untuk takwa kepada Allah. (كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ) yakni persamaan dengan puasa orang-orang terdahulu adalah dalam hal kefardhuannya. Namun ada pula yang berkata: Persamaan itu berkenaan dengan ukurannya (lamanya puasa). Ada pula yang berkata: sama dalam caranya, yaitu menahan diri dari makan dan minum. Pendapat pertama lebih kuat sebab untuk memahami ayat ini cukup dengan mengetahui bahwa Allah telah mewajibkan suatu puasa atas orang-orang sebelum kita, dan hal ini diakui oleh para penganut semua agama (sebab sudah diketahui bahwa puasa disyariatkan dalam semua agama).
d. Tafsir dan penjelasan
Allah mewajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang beriman, para pemeluk agama-agama lain sejak zaman Nabi Adam. Dia menyeru mereka dengan atribut “iman” yang menuntut untuk melaksanakan apa yang diserukan itu. Dia menjelaskan bahwa puasa adalah kewajiban atas seluruh manusia. Ini merupakan anjuran untuk menjalani puasa, sekaligus merupakan penjelasan bahwa perkara-perkara yang berat –apabila sudah menjadi umum (dikerjakan semua orang)- terasa ringan untuk dikerjakan, dan orang-orang yang melaksanakannya merasa santai dan tenteram karena perkara-perkara (yang berat) tersebut berlandaskan kebenaran, keadilan, dan persamaan.
Puasa menjadi penyuci jiwa, mendatangkan keridhoan Tuhan, dan mendidik jiwa agar bertakwa kepada Allah pada saat sepi dan ramai, membina kemauan, dan mengajarkan kesabaran dan ketahanan dalam menanggung kesusahan, penderitaan, dan penghindaran syahwat.