Uncategorized

tujuan pertempuran ambarawa

Pertempuran Ambarawa

Peristiwa Palagan Ambarawa berlangsung antara tanggal 20 November hingga 25 Desember 1945. Bermula dari kedatangan Inggris di Ambarawa yang mestinya bertugas untuk mengurus tawanan perang, ternyata justru memboncengi NICA dan mempersenjatai tawanannya. Hal ini memicu munculnya kemarahan rakyat dan berakhir dengan meletusnya pertempuran.
Untuk mendukung perjuangan, Hizbullah seringkali mengkoordinasikan kekuatan rakyat. Setelah Belanda yang membonceng Sekutu mundur dari Ambarawa ke Semarang, komandan Hizbullah yang bernama Munawir mengumpulkan masyarakat Ungaran untuk dilatih kemiliteran. Mereka terdiri dari guru madrasah, kyai, lurah, camat, pegawai kabupaten, dan masyarakat umum. Para peserta ini berasal dari seluruh kecamatan di Ungaran yang rata-rata dibawa oleh para Kyai dan pimpinan pondok Pesantren masing-masing. Antara lain dari Gunung Pati dibawa oleh Naib Mustajab. dari Pringapus, Klepu dipimpin oleh Naib M. Turmudi, dan dari daerah lain oleh Carik Suprapto, Kyai Syakur, dan lain-lain. Pelatihan di laksanakan di lapangan Bandarejo di kaki Gunung Sewakul. Di dekat lapangan itu terdapat bekas pabrik tenun milik orang Arab yang kemudian diserahkan untuk difungsikan sebagai markaz Hizbullah. Mereka dipersiapkan agar bisa mempertahankan wilayah jika sewaktu-waktu serangan musuh datang kembali.

c. Pertempuran Srondol

Hizbullah Yogyakarta juga mengirim sebagian dari kompi Rebo untuk membantu menahan serbuan NICA Belanda yang akan meluaskan wilayahnya ke selatan. Pada tanggal 4 Juli 1946 terjadi pertempuran. Dalam pertempuran itu pihak NICA Belanda mengerahkan pasukan ateleri dan dibantu oleh pesawat tempur udara. Pihak RI yang di dalamnya terdapat kompi Hizbullah Yogyakarta terpaksa mundur ke daerah Banyumanik. Dalam pertempuran Srondol ini gugur 2 orang anggota Hizbullah yaitu Ahmad Dahlan bin Hilal (cucu K.H. Ahmad Dahlan) dan Hajid bin Jalil. Keduanya dimakamkan di makam Syuhada Kauman Yogyakarta.[3]
d. Pemberontakan PKI Madiun 1948
Tahun 1948 menjadi ujian yang berat bagi bangsa Indonesia. Sejak dicetuskannya Negara Komunis (Negara Republik Indonesia Sovyet) di Madiun pada 18 September tahun itu, umat Islam sering mendapatkan berbagai gangguan dari kalangan komunis. Sejumlah pesantren di serang berikut ulama-ulama dan santri-santri pun tak luput menjadi korban kebiadaban mereka. Setiap saat dalam gerakan-gerakan yang dilakukan kalangan komunis ini sering meneriakkan yel-yel “Pesantren Ambruk”, “Masjid Bangkrut”, dan “Santri dikubur”. Di sini jelas bahwa permusuhan tersebut diantaranya ditujukan kepada umat Islam.
Bersama TNI Divisi Siliwangi, Barisan Hizbullah mengadakan serangan serentak ke Madiun melalui Gunung Lawu. Di Magetan, pasukan yang dipimpin Mayor Umar Wirahadikusumah melakukan pembersihan terhadap elemen-elemen yang terlibat gerakan makar. Aksi ini berlanjut pada penumpasan pemberontak yang berada di Madiun. Pada 30 September 1948, TNI berhasil memasuki Madiun dan memukul mundur tokoh-tokoh PKI meninggalkan kota tersebut.
Dalam penumpasan pemberontakan di Madiun ini, banyak anggota Barisan Hizbullah yang gugur dan menjadi tawanan PKI. Nasib akhir menjadi tawanan pihak komunis tetap sama, yaitu mati. Sebelum dibunuh mereka dianiaya sedemikian rupa melebihi batas kemanusiaan. Demikian juga banyak anggota Masyumi yang dibantai setelah sebelumnya mereka dimasukkan dalam black-list. Barisan Hizbullah, baik yang sudah bergabung menjadi anggota TNI maupun yang masih berada di luar, memiliki peran cukup penting dalam penumpasan pemberontakan yang dikenail dengan sebutan Madiun Affairs tersebut.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/