Perikanan

Wilayah komando angkatan laut yang berpusat di Makasar

Wilayah komando angkatan laut yang berpusat di Makasar

meliputi: Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya.

b.      Wilayah Komando Angkatan Darat yang berpusat di Jakarta, meliputi: Jawa, Madura, Sumatra dan Malaya. Pusat komando untuk seluruh kawasan Asia Tenggara terdapat di Dalat (Vietnam).

Serangan tentara sekutu mulai di arahkan ke Indonesia. Setelah menguasai pulau Irian dan pulau Morotai di Kepulauan Maluku pada tanggal 20 Oktober 1944. Jendral Douglas Mac Arthur, panglima armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, menyerbu Kep. Leyte (Filipina).

Penyerbuan ini adalah penyerbuan terbesar dalam perang Pasifik. Pada tanggal 25 Oktober 1944, Jendral Douglas Mac Arthur mendarat di pulau Leyte. Untuk menarik simpati rakayat Indonesia, Jepang mengizinkan pengibaran bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu kebangsaan Jepang Kimigayo.

Pada akhir tahun 1944, kedudukan Jepang dalam perang Pasifik sudah sangat terdesak. Angkatan perang Amerika Serikat sudah tiba di daerah Jepang sendiri dan secara teratur mengebom kota-kota utamanya. Ibukotanya sendiri, Tokyo, boleh dikatakan sudah hancur menjadi tumpukan puing. Dalam keadaan terjepit, pemerintahan Jepang memberikan “kemerdekaan” kepada negeri-negeri yang merupakan front terdepan, yakni Birma dan Filipina. Tetapi kemudian kedua bangsa itu memproklamasikan lagi kemerdekaannya lepas dari Jepang. Adapun kepada Indonesia, baru diberikan janji “kemerdekaan” dikelak kemudian hari.

Dengan cara demikian, Jepang mengharapkan bantuan rakyat Indonesia menghadapi Amerika Serikat apabila mereka menyerbu Indonesia. Dan saat itu tiba pada pertengahan tahun 1945 ketika tentara Serikat mendarat di pelabuhan minyak Balikpapan. Dalam keadaan yang gawat ini, pemimpin pemerintah penduduk Jepang di Jawa membentuk sebuah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai). Badan itu beranggotakan tokoh-tokoh utama Pergerakan Nasional Indonesia dari segenap daerah dan aliran, dan meliputi pula Soekarno – Hatta.

Sebagai ketuanya ditunjuk Dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang nasionalis tua, dengan wakil ketua, yang seorang dari Indonesia dan yang lain dari orang Jepang. Pada 28 Mei 1945, dilakukan upacara pelantikan anggota Dokuritsu Junbi Cosakai. Sedangkan persidangan pertama berlangsung pada 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945.

Persidangan pertama dipusatkan kepada usaha merumuskan dasar filsafat bagi Negara Indonesia Merdeka. Dalam sidang 29 Mei, Mr. Muh. Yamin didalam pidatonya mengemukakan lima azas dan dasar Negara kebangsaan Republik Indonesia berikut ini.

1.      Prikebangsaan

2.      Perikemanusiaan

Sumber :

https://belantaraindonesia.org/asteroid-berbentuk-cerutu-memesona-para-ilmuwan/

3.      Perike-Tuhanan

4.      Perikerakyatan

5.      Kesejahteraaan Rakyat

Kemudian pada tanggal 1 Juni, Ir. Soekarno mengucapkan pidatonya mengenai dasar filsafat Negara Indonesia Merdeka yang juga terdiri atas 5 azas, berikut:

1.      Kebangsaan Indonesia

2.      Internasionalisme atau perikemanusiaan

3.      Mufakat atau demokrasi

4.      Kesejahteraan sosial

5.      Ketuhana yang Maha Esa

Ia menambahkan pula nama Pancasila kepada kelima azas itu yang dikatakannya “atas usul seorang teman ahli bahasa”. Sesudah persidangan pertama itu, Dokuritsu Junbi Cosakai menunda persidangannya sampai bulan Juli. Sementara itu, pada 22 Juni 1945, 9 orang anggotanya yaitu: Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad Subarjo, Mr. A. A. Maramis, Abdulkahar muzakkir, Wachid Hasyim, H. Agus Salim dan Abikusno Tjokro Suyoso membentuk suatu panitia kecil.

Panitia kecil ini menghasilkan suatu dokumen yang berisi rumusan azas dan tujuan Negara Indonesia merdeka. Dokumen ini kemudian di kenal dengan nama “Piagam Jakarta” sesuai dengan penamaan Muh. Yamin. Kemudian pada 7 Agustus 1945, Dokuritsu Junbi Cosakai dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada 7 Agustus, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Dr. Radjiman dipanggil oleh panglima tertinggi Mandala Selatan Jepang yang membawahi seluruh Asia Tenggara, yakni Marsekal Darat Hisaici Terauci ke markas besarnya di Dalat (Vietnam Selatan). Kepada ketiga pemimpin Indonesia itu, disampaikan oleh Marsekal Terauci bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.